Kembali lagi di blog saya, bersama orang yang sama namun dengan kisah yang berbeda.:))
Menyambung kisah sebelumnya, kisah ini akan sedikit berbeda dari sebelumnya, jika sebelumnya saya masih mencarinya sekarang saya memaknai keberadaannya.
Nyeput; banyak yang memaknai nya sebagai ramalan, pemaknaan dari apa yang sudah didapatkan, konon katanya dalam tradisi nyeput ini seseorang bisa mengetahui akan seperti apa masa depan , dan masa yang telah berlalu jua. Untuk melakukan nyeput ini pun tidak bisa dilakukan begitu saja, ada yang perlu dilakukan semacam ritual, entah itu dengan meminum air yang sudah diberikan mantra, atau bisa dengan daun sirih dan lain sebagainya.
Perjalanan ini dilakukan seperti sebelumnya, saya bersama Bapak saya menemui orang yang memiliki naskah kuno tersebut. Kami pergi ke rumah beliau malam Sabtu, sesampai di sana kami tidak bertemu dengan Beliau, namun kami bertemu dengan istri beliau. Istri beliau berkata.."Bapak tidak ada di rumah, lagi mimpin selakaran di pesantren", Saya kemudian sadar jika ini bulan Maulid Nabi dan kata Istrinya jika di bulan seperti ini beliau banyak yang mengundang untuk sekedar mengisi pengajian, tausiah ataupun sebagai tamu undangan saja. Saya mulai pesimis dengan keadaan sebab takut jika beliau tidak bisa di malam berikutnya dan malam-malam lainnya. kenapa harus malam? Sebab beliau berladang pas pagi, sebab beliau seorang petani. Namun, syukurlah beliau bisa ditemui di malam berikutnya.
Nyeput yang kami lakukan ini tidak memakai prasyarat seperti nyembek, air yang sudah diberikan mantra dan lain sebagainya. Naskah takepan puspakrema, naskah yang berisi tentang kebijakan pemerintah. Bagian naskah yang saya dapatkan dan dibacakan oleh Beliau yakni tentang bagaimana pemaknaan hidup dan adanya Tuhan. Tan win ya asri ya ulam , miwah sesanganan sami ; dalam naskah tersebut diartikan bahwa Datu atau pemerintah ini tidak pernah berhenti membuat semua jajanan yang bisa dibuat , hingga tidak ada hujan tidak ada angin penyakit tiba-tiba datang. Amiarsa warta iku yen nana wong kemasan, yang artinya Ia mendapatkan dari seorang Pande atau orang yang membuat emas. luwih kabisa nira iki artinya, orang yang memiliki kebisaan atau orang pintar. Ing betal mukedas artinya Orang pintar tersebut bertempat tinggal di Baitul Maqdis (Rumah Suci). Datu puspakrema memerintah satu utusan untuk
menghadiri undangan pemerintah, tetapi tidak diceritakan ia bagaimana utusan tersebut
bisa sampe ke sana. Sesampainya di sana segara utusan menuju perkantoran atau bencingah dan melihat para pemerintah sedang sakep atau sidang dan Ia pun langsung melungguh atau duduk.
Pendekatan yang dipakai dalam perjalanan ini yakni menggunakan pendekatan semiotik, yang mana pendekatan semiotik ini manusia harus bisa memaknai atau memahami segala sesuatu yang ada di sekitar. Pemaknaan naskah yang saya dapatkan dari hasil nyeput ini yakni naskah puspakrema, Datu yang dimaksud dalam naskah tersebut yakni pemerintah manusia , insan atau hamba. sedangkan Pande yang dimaksud itu yakni Allah SWT (Tuhan) yang menciptakan alam semesta, dunia dan seisinya. Ketika manusia atau pemerintah ini membuat suatu kebijakan tiada henti, tiba-tiba masalah datang menghampiri. Ia mengetahui hal tersebut melalui tanda-tanda yang diberikan oleh Tuhan, seperti diberikannya penyakit kepada anaknya, kepada istrinya maupun kepada ia sendiri. Dalam naskah tersebut dimaknai bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia tujuannya untuk beribadah, menyembah Tuahnnya. setiap manusketika akan beribadah di tempat Ibadah, akan berlaku sopan, langsung menghadap kepada Tuhan, patuh pada ajaran Tuhan serta selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan.
Lembaran coklat tersebut bukanlah lembaran biasa, melainkan mempunyai makna yang sangat dalam. Jika dikaji maknanya lebih dalam, pemaknaan setiap naskah tersebut ada sangku pautnya denga kehidupan yang dijalani. Memaknai masa lalu sebagai acuan untuk masa depan.
Sekian dari saya.
Jika ingin bahagia, jangan lupa selalu bersyukur atas segala apapun yang Tuhan berikan.
